JEMBATAN DARURAT PULIHKAN AKSES VITAL TIGA KECAMATAN PASCA ROBOHNYA JEMBATAN PUSSEPANG DI DESA JAMBUMALEA
POLEWALI, 22 Mei 2026 – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Polewali Mandar bergerak cepat memulihkan jalur transportasi yang terputus pasca robohnya Jembatan Pussepang. Respons sigap itu diwujudkan dengan rampungnya pembangunan jembatan darurat yang dapat dilalui masyarakat pada Jumat, 15 Mei 2026.Jembatan Pussepang roboh pada 4 Mei 2026, melumpuhkan akses utama antar desa di kawasan tersebut. Keruntuhan struktur ini disebabkan oleh kombinasi dua faktor: kondisi fisik jembatan yang telah uzur karena berdiri sejak era 1980-an dan intensitas curah hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Derasnya hujan memicu erosi pada bantaran sungai di sekitar fondasi jembatan, menggerus struktur penopangnya hingga tidak mampu lagi bertahan. Akibatnya, warga terpaksa menempuh jalur alternatif sejauh 8 km memutar melalui Desa Dakka.Guna mencegah dampak yang lebih meluas, Dinas PUPR segera mengambil tindakan taktis di lapangan. Pada 6 Mei 2026, tim teknis melakukan pembongkaran menyeluruh terhadap sisa badan jembatan yang rusak. Langkah ini dinilai mendesak karena puing struktur terbukti menghambat aliran sungai. Derasnya aliran sungai tersebut juga merupakan gabungan dari cabang sungai sebelumnya yang telah mencapai lantai jembatan. Kondisi ini berpotensi memicu luapan air ke kawasan permukiman sekitar, terutama saat banjir susulan atau lonjakan debit sungai.Mengingat peran strategis jalur ini, pembangunan dipercepat tanpa mengesampingkan standar keamanan struktur. Jembatan darurat dibangun menggunakan besi profil I-Beam Wide Flange (IWF) sebagai balok utama, guna menjamin kekuatan topangan terhadap beban kendaraan yang melintas.Percepatan pembangunan tidak lepas dari peran aktif warga setempat. Sejumlah warga dari desa-desa sekitar turut bergotong royong secara swadaya, membantu pengangkutan material hingga pekerjaan fisik di lapangan. Semangat kebersamaan antara tim Dinas PUPR dan masyarakat menjadi salah satu faktor kunci rampungnya jembatan dalam waktu singkat.Jembatan yang kini berdiri kembali itu bukan sekadar konstruksi darurat, melainkan simbol nyata kolaborasi antara pemerintah dan warga. Jalur ini merupakan urat nadi perekonomian kawasan, yang dilalui setiap harinya oleh warga dari tiga wilayah administratif: Kecamatan Tapango, Kecamatan Bulo, dan Kecamatan Matangga. Dengan terhubungnya kembali akses utama antardesa, roda ekonomi dan mobilitas warga yang sempat terhenti kini perlahan pulih kembali.Kepala Dinas PUPR Husain Ismail menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas yang tidak dapat dikompromikan sepanjang proses pembangunan berlangsung.“Utamakan keselamatan pengguna,” tegasnya. Sementara jembatan darurat ini beroperasi, pemerintah daerah melalui Dinas PUPR tengah mengejar alokasi anggaran agar rencana pembangunan jembatan permanen yang lebih tangguh dapat segera direalisasikan.